Site Loader

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Agama, sebagaimana dikatakan Feuerbach dalam Rakhmat, kebutuhan ideal bagi umat manusia. Agama berperan penentuan dalam kehidupan, manusia tidak dapat hidup dengan sempurna tanpa melalui bimbingan agama. Jika agama dipahami dalam kehidupan kolektif para penganutnya, agama menjadi sesuatu sangat sensitif, dapat melahirkan sikap fanatik dan merasa paling benar sendiri. Dengan cara pandang seperti ini, sikap itu dapat memicu lahirnya konflik. Agama tidak harus dipahami secara dogmatis belaka yang menjadikan agama sensitif terhadap konflik komunitas agama.
Menurut Manurung, konflik terjadi disebahagian wilayah Indonesia, termasuk Provinsi Maluku, dipicu berbagai aspek dan lebih kompleks, di antaranya komunitas beragama mengkristal dalam sentimen keagamaan. Disebabkan peran simbolisasi ornamental sebagai akibat kooptasi kekuasaan. Komunitas beragama menjadi kehilangan arah dan panutan. Sebab, koneksi komunitas dan pimpinan agama menjadi terputus karena intervensi kekuasaan. Agar disintegrasi bangsa tidak terjadi, komunitas Muslim-Kristiani seharusnya mampu bersikap arif, rasional dan apresiatif dalam membangun kehidupan beragama diarahkan dalam trilogi kerukunan, karena agama sebagai landasan, kekuatan moral spiritual dan etika dalam kehidupan beragama. Agama tidak harus dipahami secara dogmatis belaka, namun harus dipahami secara rasional dan objektif agar pluralitas agama dapat diterima sebagai suatu keniscayaan, sehingga kerukunan beragama dapat terwujud secara harmonis. Salah satu pendekatan relevan adalah komunikasi agama.
Komunikasi agama dianggap sebagai satu kebutuhan hidup paling mendasar, manusia dapat melakukan interaksi antar sesamanya dengan baik hanya dengan perantara komunikasi. Melalui interaksi manusia diperoleh informasi mengenai kebutuhan untuk memenuhi kelangsungan hidupnya di lingkungan sekitarnya. Dalam agama Islam pun, komunikasi merupakan persoalan urgen dan sangat esensial bagi manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai “khalifah fi al-ardh” yaitu menegakan agama (hurasah al-din) dan mengatur serta mengelola alam (siyasah al-dun’ya) demi tercapainya kesejahteraan serta kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Untuk mencapai tujuan kehidupan manusia, komunikasi agama memungkinkan komunitas Muslim-Kristiani mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama di Kepulauan Maluku, melakukan tindakan proses komunikasi melalui interaksi keterlibatan sosial, budaya, dan keagamaan berdasarkan kepercayaan dimiliki untuk mempertemukan kepentingan dan keinginan masing-masing. Komunikasi mana harus timbal-balik, dapat menciptakan kesamaan pemahaman untuk mencapai kesepakatan dan keputusan bersama. Tindakan komunikasi seperti itu hanya akan berlangsung secara baik dan efektif jika didasarkan atas kemauan baik (good will) kedua belah pihak (Muslim-Kristiani). Yang terpenting lagi adalah bagaimana proses komunikasi melalui interaksi itu dilaksanakan secara baik sehingga dapat mencapai tujuan hidup beragama yang harmonis di lingkungan sekitarnya.
Komunikasi agama menjadi penting sebagai media rekonsiliasi pada masa rehabilitasi pasca konflik komunitas Muslim-Kristiani. Inilah yang menjadi fokus kajian dalam penelitian dengan pertimbangan, di antaranya (a) Komunitas Muslim-Kristiani lebih cenderung memahami nilai-nilai ajaran agamanya secara emosional. Kurang menunjukkan tindakan keagamaan mengarah pada pembentukan keimanan, ketaqwaan dan keadilan sosial, (b) Penumpulan peran pemimpin agama. Peminpin agama seharusnya menjadi panutan dan control of life serta sumber inspirasi komunitas beragama, telah ditebas menjadi alat politique, (c) Masih adanya sikap eksklusivitas dari pemimpin agama terhadap agama lain, (d) Kebiasaan komunitas Muslim-Kristiani dalam beribadah mulai luntur, membangun kebersamaan semakin renggang dan jiwa persaudaraan secara internal maupun eksternal semakin mengendur, (e) Kemungkaran yang terjadi tetap dibiarkan dan tidak heran jika di beberapa wilayah di Kepulauan Maluku komunitas Muslim-Kristiani sering terlibat tawuran dan perkelahian, (f) Masih adanya trauma psikologi dan segregasi penduduk atas dasar agama yang melanggengkan dendam, kebencian dan melemahnya ikatan kekerabatan yang menandai hilangnya identitas atau jati-diri serta percaya diri, dan (g) Adanya tindakan fanatisme agama, menumbuhkan belief atau saling curiga, prasangka, dan stereotype antarkomunitas Muslim-Kristiani.

Indikasi-indikasi awal diperoleh dalam studi penjajakan, aspek-aspek dominan dari setiap unsur-unsur untuk mewujudkan keharmonisan kehidupan beragama, diduga sangat memengaruh terhadap bagaimana komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku mengkonstruksi dirinya beragama yang membentuk konsep diri, dan konsep diri itu digunakan dalam mereaksikan dirinya pada lingkungan di sekitarnya. Nurcholis Majid mengemukakan “agama sebagai setting tempat untuk mencari makna hidup manusia. Penemuan hidup final dan ultimate pada urutannya, akan menyediakan sumber motivasi tindakan individu dalam hubungan sosialnya.” Komunitas Muslim-Kristiani melakukan tindakan komunikasi agama berdasarkan pengalaman yang tidak terlepas dari penilaian dan kepercayaan dimiliki yang bersumber dari rangkaian proses pemahaman dan mempelajari ajaran agama. Setiap individu Muslim-Kristiani akan berbeda dan memiliki kadar interpretasi keberagaman dalam memahami ajaran agamanya, sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Akibat perbedaan-perbedaan pemahaman relasi beragama, akan memunculkan disharmonisasi antarkomunitas Muslim-Kristiani atau hubungan beragama menjadi renggang. Keharmonisan kehidupan beragama tidak terjalin dengan baik dalam melakukan tindakan proses interaksi komunikasi di antara umat beragama.
Tema relasi beragama komunitas Muslim-Kristiani akan semakin menarik, Pertama, keberadaan Provinsi Maluku sebagai salah satu model kehidupan harmonisasi beragama di Indonesia dengan simbolisasi komunikasi nonverbal “gong perdamaian” di dunia, pada kasus-kasus tertentu di daerah-daerah tertentu, ternyata menunjukkan ada persaingan begitu kuat melibatkan Muslim-Kristiani. Kedua, adanya penjulukan simbol obet-merah dan acang-putih, di kelompok obet-merah identik dengan Kristiani, acang-putih identik dengan Muslim, bisa diduga sebagai satu-satunya simbolisasi berlaku di Kepulauan Maluku menunjukkan hubungan komunitas Muslim-Kristiani tidak saja menyentuh masalah agama, namun telah menyentuh masalah simbolisasi penjulukan. Ketiga, perjalanan sejarah perjumpaan Muslim-Kristiani di Kepulaan Maluku telah melahirkan stigma yang dapat dijadikan indikator sebagai relasi harmonisasi di satu sisi, sementara di sisi lainnya menunjukkan hubungan disharmonisasi.
Di Kepulauan Maluku pernah mengalami konflik, telah merusak tatanan keharmonisan kehidupan beragama dan berpotensi menumbuhkan sikap dan tindakan komunikasi fanatisme beragama, prasangka, streotype, dan eksklusif komunitas Muslim-Kristiani. Di sisi lain, adanya pemenuhan kepentingan atau kebutuhan emosional para penganut agama dalam mengkonstruksi dirinya beragama, terbentuknya konsep diri mereka berdasarkan pengalaman komunikasi agama dialami dalam kehidupan sehari-harinya telah membentuk dunia sosial yang diyakininya dan berkembang menjadi realitas dalam kehidupan beragama, sehingga komunitas Muslim-Kristiani kurang bisa membedakan antara kepentingan kehidupan kolektif dan personal sebagai individu Muslim-Kristiani.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Rumusan dan Batasan Masalah
Rumusan Masalah
Setiap individu Muslim-Kristiani memaknai kehidupan beragama berdasarkan proses refleksi atas pengalaman sehari-hari yang terinternalisasi menjadi nilai. Individu Muslim-Kristiani dilandasi nilai melakukan tindakan komunikasi sebagai pilihan dan ataupun pengambilan keputusan dalam beragama berdasarkan kepercayaan dimiliki. Kesadaran mereka dalam mewujudkan harmonisasi beragama di tuntut adanya proses komunikasi agama melalui interaksi, diawali dengan terbentuknya pemaknaan akan dirinya beragama sebagai realitas sosial diperoleh berdasarkan hasil pengalaman di saat berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya. Pemaknaan yang bersifat retrospektif ini dapat terbentuk melalui komunikasi agama komunitas Muslim-Kristiani dengan lingkungannya.
Berdasarkan hal tersebut, peneliti dapat menjabarkan rumusan masalah penelitian “Bagaimana komunikasi agama sebagai media rekonsiliasi komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku memaknai dirinya beragama, dan konsep diri dikonstruksi berdasarkan pengalaman beragama, serta pengalaman komunikasi agama mereka dalam mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama dialami di lingkungan sekitarnya.”?
Batasan Masalah
Dari rumusan masalah yang telah ditetapkan tersebut, peneliti mengidentifikasi beberapa batasan masalah dijadikan fokus penelitian adalah (a) Bagaimana komunitas Muslim-Kristiani memaknai dirinya beragama,? (b) Bagaimana konsep diri komunitas Muslim-Kristiani berdasarkan pengalaman beragama dialami,? dan (c) Bagaimana pengalaman komunikasi agama dilakukan komunitas Muslim-Kristiani dalam mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama dialami di lingkungan sekitarnya.?
Melalui pendekatan fenomenologi dari sudut pandang kesadaran dan pengalaman komunikasi agama, pendalaman masalah akan bisa dilakukan secara lebih konfrehensif dengan menggabungkan sudut pandang emik dan etik. Kedua sudut pandang ini akan digunakan agar diperoleh penjelasan-penjelasan kekhasan lokal (emik) dan penjelasan secara rasional ilmiah (etik) dari peneliti dan sumber literatur yang sudah ada sebelumnya.

Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian
Serangkaian dengan rumusan dan batasan masalah sebagai fokus kajian, maka tujuan penelitian ini adalah (a) Memahami secara mendalam komunitas Muslim-Kristiani memaknai dirinya beragama, (b) Menjelaskan pemaknaan, perasaan, dan perlakuan penerimaan beragama dari pengalaman dialami yang menentukan konsep diri komunitas Muslim-Kristiani yang tidak terlepas dari proses komunikasi melalui interaksi dilakukan di lingkungan sekitarnya, dan (c) Menjelaskan pengalaman komunikasi agama komunitas Muslim-Kristiani yang dialami dalam mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama di lingkungan sekitarnya.
Manfaat Penelitian
Manfaat Teoretis
Komunikasi agama sebagai objek penelitian dapat memberikan kontribusi pada teoretis berupa pengembangan ilmu komunikasi dalam konteks komunikasi intrapribadi, komunikasi kelompok. Hasil penelitian diharapkan dapat mendeskripsikan dan menjelaskan pengalaman komunitas Muslim-Kristiani dalam proses pemaknaan diri, terbentuknya konsep diri mereka, dan pengalaman komunikasi agama dialami di lingkungannya sehingga manfaat teoritis dijadikan sebagai referensi ilmiah bagi peneliti dengan subjek penelitian adalah komunitas Muslim-Kristiani, terutama aplikasi dari teori tindakan sosial, fenomenologi, interaksi simbolik, dan beberapa konsep pengalaman komunikasi agama dalam konteks komunikasi antarpribadi, identitas beragama, harmonisasi beragama, dan konsep diri pada komunitas Muslim-Kristiani.
Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan hasil berupa usulan-usulan dan gambaran teknis yang dapat digunakan untuk mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama di Kepulauan Maluku pada konteks komunikasi agama. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran bagi pemerintah, pemimpin agama, tokoh-tokoh agama, media massa, serta pihak-pihak terkait untuk mengatasi masalah strategis berskala nasional dengan kondisi kehidupan beragama komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku dalam menyusun regulasi dan kebijakan serta implementasi terkait dengan kehidupan beragama. Kemudian dari hasil penelitian ini, diharapkan adanya perubahan konsep diri umat beragama secara bertahap atas sesama komunitas beragama di Kepulauan Maluku untuk mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama melalui komunikasi agama sebagai media rekonsiliasi pada masa rehabilitasi pasca konflik.

Urgensi Penelitian dalam mengatasi masalah strategis berskala nasional
Berdasarkan latarbelakang, fokus masalah, dan kontribusi penelitian ini, penelitian ini sangat urgensi mengatasi masalah strategis berskala nasional. Pertama, komunikasi agama menjadi penting sebagai media rekonsiliasi pada masa rehabilitasi pasca konflik komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku. Kedua, sejak dini intrapribadi dan antarpribadi Muslim-Kristiani memiliki penerimaan sosial, budaya, dan keagamaan satu sama lainnya terhadap lingkungan dan menambah wawasan mengenai kebhinekaan sebagai anugerah diberikan Tuhan yang harus disyukuri bukan untuk diingkari, namun bersama-sama untuk merawat dan menjaga kebhinekaan dengan hidup berdampingan secara damai, saling menolong, dan bekerjasama dalam mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama.
Ketiga, saling memberikan dukungan moril terhadap sesama “basudara samua” Muslim-Kristen dengan tidak membedakan satu sama lain dalam mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama Muslim maupun Kristiani dengan menumbuhkan sikap semangat persaudaraan, toleransi, kebersamaan, dan kekeluargaan. Keempat adalah pemerintah, baik pusat maupun daerah dianggap telah mengakomodasi kebutuhan komunitas Muslim-Kristiani dalam berbagai aturan dibuat sebagai landasan perundangan, namun sejauh ini implementasi dari penegakan aturan tersebut masih dianggap belum terwujud. Pemerintah proaktif lebih bertindak tegas dalam penegakkan aturan dan penetapan sanksi sehingga memberi efek jera bagi pelanggarnya.
Kelima mencakup pada pengambil kebijakan, dari tingkat pusat sampai ke daerah dan para pelaksana kebijakan di lapangan, khususnya Komunitas Muslim-Kristiani dalam mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama, hendaknya dalam merancang dan melaksanakan kebijakan diperlukan dukungan sosial, mendasarkan diri pada pandangan, perasaan dan kebutuhan nyata komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku.

1.5 Jenis Studi
Jenis studi digunakan penelitian ini adalah studi fenomenologi. Fenomenologi merupakan studi yang berupaya mengungkap realitas berdasarkan kesadaran dilandasi oleh pengalaman komunikasi agama melalui interaksi komunikasi komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku, merujuk pada pernyataan bahwa “… phenomenologists explore the structures of consciousness in human experience.” Kesadaran dan pengalaman kehidupan inilah membentuk pemaknaan suatu realitas kehidupan komunitas Muslim-Kristiani, menggunakan studi fenomenologi dengan metode kualitatif interpretatif subjektif, menitiberatkan pada pengamatan dan suasana alamiah.

Dalam fenomenologi yang dipelajari adalah dunia kehidupan sosial “lifeworld” seperti yang biasa kita alami, tanpa proses berpikir, tanpa konsep, teori, dan kategori. Menurut Creswell, ada enam tahapan pendekatan analisis studi fenomenologi.
Peneliti mulai dengan menggambarkan secara lengkap pengalaman mereka tentang fenomena diamati.

Peneliti menemukan pernyataan (dalam wawancara) tentang bagaimana individu mengalami topik, menyusun daftar pertanyaan yang signifikan dan memperlakukan setiap pernyataan secara seimbang, dan menyusun suatu daftar pernyataan yang tidak tumpang-tindih.

Pernyataan ini dikelompokkan ke dalam “unit makna,” menyusun unit ini dan memberikan gambaran penjelasan tekstur (sifat khas) pengalaman.

Peneliti mengungkapkan pengalamannya sendiri dan mengunakan variasi imajinatif atau gambaran struktural, mencari semua makna yang mungkin, perspektif berbeda, keragaman frames of reference mengenai fenomena dan mengkonstruksi suatu deskripsi mengenai fenomena yang telah dialami.

Peneliti mengkonstruksi suatu gambaran menyeluruh mengenai makna dan esensi dari pengalaman, dan
Proses ini harus dilanjutkan dengan pertimbangan peneliti mengenai pengalaman mereka dan partisipasi, kemudian disusun suatu gambaran yang lengkap.

Keenam tahapan ini dilakukan dalam pendekatan studi terhadap kontekstual fenomenologi, yaitu pengalaman sadar komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku. Pendekatan fenomenologi dari Schutz menyatakan makna diciptakan individu bukan hanya sebagai sesuatu yang “taken for granted” dan kemudian disingkirkan sebagai sesuatu tidak penting karena hanya dianggap sebagai sarana bagi pembentukan tindakan, namun merupakan pusat dari kehidupan manusia.

Kesadaran dan pengalaman inilah membentuk pemaknaan akan suatu realitas kehidupan beragama dengan menggunakan studi fenomenologi. Pemilihan jenis studi ini secara spesifik diharapkan dapat menguak “komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku mengkonstruksi dirinya beragama yang membentuk konsep diri dan konsep diri itu digunakan dalam mereaksikan dirinya pada lingkungan di sekitarnya.” Komunitas Muslim-Kristiani melakukan tindakan berdasarkan pengalaman komunikasi agama yang tidak terlepas dari penilaian dan keyakinan berdasarkan kepercayaan dimiliki bersumber dari rangkaian proses pemahaman beragama.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Hasil Penelitian Terdahulu
Subyek penelitian ini adalah komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku dengan objek permasalahan sebagai fokus penelitian, di antaranya makna diri, konsep diri, pengalaman komunikasi agama dengan menggunakan pendekatan fenomenologi dan metode interpretatif subjektif dengan teoretis tindakan sosial, fenomenlogi, dan interaksi simbolik. Dimaksudkan untuk memberikan bahan komparasi dan referensi agar realitas kehidupan dihadapi komunitas Muslim-Kristiani dapat dipahami secara komprehensif sehingga penelitian ini mampu menyajikan hasil penelitian, memiliki nilai originalitas dan nilai kebermanfaatan bagi bidang akademis yang ilmiah dan dunia sosial yang alamiah.
Penelitian terdahulu dapat memberikan gambaran mengenai penelitian terhadap konsep komunikasi agama yang begitu beragamnya tema-tema dapat dikaji dalam penelitian ini dapat dilihat dari hasil penelusuran penelitian terdahulu yang peneliti temukan, seperti hasil penelitian berikut ini.

Marsel Robot (2008). Hasil penelitian. “Konstruksi Harmoni Antar Salib dan Bulan Sabit Sebuah Etnografi Komunikasi Antaragama Antara Komunitas Katolik dan Komunitas Islam di Natram Manggarai Flores Barat Nusa Tenggara Timur.” Pelitian ini menggunakan teori interaksi simbolik dan konstruksi sosial yang mendeskripsikan gambar suci dan patung di ruang tamu sebagai pusat interpretasi sekaligus suatu himbauan penyesuaian pemahaman antara mereka. Setiap tindakan komunikasi mereka selalu mempertimbangkan respon orang lain. Fenomena tersebut terlihat dalam pola komunikasi di mana konteks dapat menentukan cara dan makna pesan.
Bukhari (2009). Hasil Penelitian. “Dakwah Ahlulbait Kajian Kang Jalal.” Penelitian ini bertujuan mengetahui dakwah Ahlulbait kajian Kang Jalal, khususnya materi disampaikan dengan pendekatan dan media digunakan serta meneliti objek dakwah Kang Jalal. Menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi kasus dengan beberapa temuan di antaranya cara dakwah mencerahkan intelektual pelaku pengajian, menggunakan pendekatan komunikasi persuasif, empati, studi kritis dan rasional. Untuk mencerahkan spiritual, menggunakan pendekatan sufistik. Dakwahnya tidak banyak menyebut Syiah secara terang-terangan. Sosok Kang Jalal sebagai seorang ahli komunikasi dalam dakwahnya tidak memunculkan sesuatu bersifat konfrotasi dengan pengikutnya dan terbuka untuk umum.

Bambang Saiful Ma’arif (2009) meneliti “Pola Komunikasi Dakwah KH. Abdullah Gymnastiar dan KH. Jalaluddin Rakhmat dalam Membina Kehidupan Beragama Jamaahnya di Bandung.” Tujuan penelitian adalah mengetahui karakteristik komunikator, membina keyakinan, pesan komunikasi dakwah, pandangan da’i mengenai jama’ahnya, dan pola komunikasi dakwah menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan “rhetorical criticism” melihat pada figur komunikasi, pesan, dan kebahasannya. Di antara temuannya adalah model komunikasi dakwah KH. Abdullah Gymnastiar terfokus pada ruhiyyah-praktis yang melahirkan amal shaleh. Sedangkan model komunikasi dakwah KH. Jalaluddin Rakhmat berbasis informasi kognitif terfokus pada pergerakan.

Toto Suryana (2011). Hasil Penelitian. “Konsep dan Aktualisasi Kerukunan Antar Umat Beragama.” Metode digunakan adalah kualitatif interpretatif subjektif. Temuannya adalah keberagaman, dianggap sebagai realitas dan ketentuan dari Allah SWT sehingga umat beragama diperlukan rasa keberterimaan dan usaha untuk memelihara dengan mengarahkan kepentingan dan tujuan bersama. Perbedaan umat beragama sebagai fakta yang harus disikapi secara positif sehingga antar pemeluk agama terjadi hubungan kemanusiaan yang saling menghargai dan menghormati. Agama bersifat universal, namun beragama tidak mengurangi rasa kebangsaan, namun menguatkan rasa kebangsaan. Agama mendorong penganutnya untuk membela kehormatan dan kedaulatan bangsa sebagai warga negara Indonesia.
Nurkholik Affandi (2012). Hasil Penelitian. “Harmoni dalam Keragaman: Sebuah Analisis tentang Konstruksi Perdamaian Antar Umat Beragama.” Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan beberapa temuan adalah harmoni kerukunan antar umat beragama dewasa ini menjadi sebuah harapan ditengah-tengah kehidupan antar umat beragama yang memiliki potensi terjadinya konflik. Menggunakan teoretis konstruksi perdamaian kerukunan antar umat beragama dengan temuan menciptakan perdamaian, unsur-unsur dalam kontruksi perdamaian pada dasarnya tidak mutlak secara keseluruhan harus terpenuhi akan tetapi sebagian dari unsur-unsur yang ada juga memiliki kontribusi dalam menciptakan kerukunan antar umat beragama. Kerukunan antar umat bergama dapat dilihat pada beberapa fenomena sosial, seperti terjadinya dialog antar umat beragama, terbentuknya civic asosiasi multi identitas, baik dari segi agama, etnis mapun ras. Unsur-unsur dalam kontruksi perdamaian pada dasarnya tidak semuanya harus terpenuhi.
Ujan Mahadi (2013). Hasil Penelitian. “Membangun Kerukunan Masyarakat Beda Agama Melalui Interaksi dan Komunikasi Harmoni di Desa Talang Benuang Provinsi Bengkulu.” Paradigma digunakan adalah interpretative subjektif dengan menggunakan pendekatan sosiologi dan interaksionisme simbolik. Beberapa temuan di antaranya adalah kerukunan hidup masyarakat beda agama terbangun melalui interaksi dan komunikasi harmoni yang saling menghargai, menghormati, memberikan toleransi dan tidak menyinggung masalah agama dalam kehidupan masyarakat. Faktor lain mendukung adalah adanya kesadaran tinggi dari masyarakat akan pentingnya kerukunan hidup beragama yang ditanamkan sejak kecil secara turun temurun oleh pendahulunya dan tumbuhnya jiwa nasionalisme dalam kehidupan masyarakat; dan ketiga, adanya ikatan kekerabatan yang dihasilkan dari pernikahan yang sebelumnya beda agama.

Diah Fatma Sjoraida et.al (2016). Hasil Penelitian. “Pola Komunikasi Tokoh Lintas Agama dalam Menjaga Kerukunan Umat Beragama di Kota Bandung.” Penelitian dilatarbelakangi dengan banyak munculnya kekerasan berlabelkan agama di Indonesia. Menggunakan metode kualitatif dengan beberapa temuan di antaranya adalah pola komunikasi tokoh lintas agama dilakukan dengan cara komunikasi dua tahap, (a) Komunikasi formal, mereka menyampaikan pendapat, usulan serta gagasannya melalui musyawarah yang kemudian ditetapkan menjadi sebuah keputusan. Musyawarah dilakukan secara rutin antar tokoh lintas agama yang tergabung dalam FKUB kota Bandung sesuai dengan program kerja yang ditetapkan, dan (b) Komunikasi informal, mereka melakukan kunjungan silaturahmi, mengadakan diskusi terbuka, menyelenggarakan perlombaan dan lainnya.
Masykur (2016). Hasil Penelitian. “Pola Komunikasi Antar Umat Beragama: Studi Dialog Umat Islam dan Kristen di Kota Cilegon Banten.” Menggunakan metode kualitatif dengan beberapa temuan di antaranya adalah kehidupan beragama dinamis, tidak bisa tidak lain, para penganut agama harus menapaki jalan menuju dengan menghormati perbedaan-perbedaan agama, pluralitas agama lewat keterbukaan terhadap agama yang lain untuk bisa saling mengenal dan saling memahami timbal balik, seperti melalui proses dialog antar agama. Dialog antar agama sebagai titik pertemuan para penganut berbagai agama. Dialog antar agama merupakan bentuk komunikasi bukan hanya terbatas kepada diskusi rasional tentang agama termasuk diskusi tentang etika atau teologi agama-agama, namun juga bisa mengambil berbagai macam bentuk, seperti dialog kehidupan sehari, karya sosial bersama, maupun dialog pengalaman beragama. Terdapat berbagai macam bentuk dialog, begitu pula berbagai macam kesulitannya. Namun bagaimana pun bentuk dialog antar agama tersebut, maupun macam kesulitan yang menyertainya, dialog antar agama merupakan suatu bentuk komunikasi manusia.
Mahmudah (2017). Hasil Penelitian. “Tindakan mengenai Komunikasi Agama di Griya Lobunta Lestari Cirebon.” Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan beberapa temuan adalah belajar membaca al-Qur’an dilatarbelakangi mengamalkan kandungannya, memberikan kenyamanan batin, merasakan kedekatan kepada Allah, serta menumbuhkan ikatan silaturarahmi terhadap sesama muslim. Dengan tindakan komunikasi pelaku Dallam kehidupan beragama menunjukkan positif, berhubungan tindakan pemberantasan buta huruf al-Qur’an maupun kajian kitab, hanya saja penambahan frekuensi tindakan komunikasi.
Masmuddin (2017). Hasil Penelitian. “Komunikasi Antar Umat Beragama di Kota Palopo: Perspektif Kajian Dakwah.” Adapun metode digunakan kualitatif dengan beberapa temuan di antaranya adalah Komunikasi antar umat beragama sangat perlu dilakukan secara intensif, pemeluk agama tentu saja mengakui dan meyakini bahwa agama dianutnya dapat menyampaikan kepada keselamatan hidupnya baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Setiap agama memiliki misi penyebaran masing-masing. Semua penganjur agama, baik Islam, Nasrani maupun Hindu akan menyampaikan ajaran agamanya kepada orang lain. Bentuk-bentuk Komunikasi antar umat beragama dilakukan berupa seminar atau dialog, di dalam kegiatan-kegiatan tersebut sering terjadi dialog atau diskusi antar umat beragama, seperti bagaimana merajut tali kasih antar sesama, bagaimana urgensi menyambung tali persaudaraan antar pemeluk agama dan sebagainya. Selain itu, terdapat pula bentuk kerja sama dalam pengamanan, terutama pada hari-hari tertentu.
Penelitian ini hanya meneliti umat beragama melalui pengalaman komunikasi dilingkungannya, sehingga tidak memberi gambaran yang utuh mengenai pengalaman sadar komunitas umat beragama menjalani hidupnya dalam kesehariannya dan tidak membahas makna beragama, konsep diri beragama, serta proses tindakan interaksi komunikasi agama yang telah dilakukan.
Penelitian terdahulu dikemukakan memiliki sejumlah kemiripan dalam aspek fenomena sosial diteliti, yaitu fenomena suatu realitas sosial dialami oleh komunitas Muslim-Kristen di Kepulauan Maluku. Penelitian ini yang akan dilakukan memiliki perbedaan signifikan dengan penelitian terdahulu tersebut, mengingat aspek fokus penelitian, pendekatan penelitian, tujuan penelitian dan karakteristik subjek ditelitinya memiliki perbedaan cukup mendasar untuk disamakan. Penelitian terdahulu sejenis ini pun dapat dijadikan referensi bagi penelitian ini terutama dalam hal pembahasan hasil penelitian akan dilakukan kelak setelah data terkumpul dan pengolahan data untuk dijadikan sebagai bahan pengambilan kesimpulan.

Berdasarkan perspektif interpretif atau fenomenologis, komunitas Muslim-Kristiani memiliki pengalaman proses komunikasi agama di alami di lingkungan sekitarnya diasumsikan sebagai realitas subjektif. Ini menarik untuk diteliti dengan mengetahui bagaimana makna diri, konsep diri, dan pengalaman komunikasi agama Komunitas Islam-Kristen di lingkungannya dialami dalam kehidupan sehari-hari dalam mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama di Kepulauan Maluku.
Landasan Konseptual
Identitas Beragama
Identitas merupakan suatu fenomena yang timbul dari dialektika antara individu dan masyarakat. Dalam perspektif komunikasi, identitas dibentuk melalui komunikasi dengan orang lain. Erikson berpendapat dalam Burns bahwa identitas sebagai: “… a subjective sense of an invigorating sameness and continuity.” Artinya Erikson menyatakan identitas sebagai bentukan dihasilkan melalui serangkaian upaya dan proses tertentu memiliki makna tersendiri dalam budaya sosial untuk memperkuat pemikiran mengenai kesamaan dan keberlangsungan secara subjektif.

Identitas beragama dimiliki komunitas Muslim-Kristiani merupakan bentukan yang dihasilkan sejumlah tindakan proses interaksi komunikasi agama di lingkungan sekitarnya. Interaksi ini memiliki makna tersendiri berdasarkan pengalaman beragama mereka sehingga dapat dijadikan kerangka rujukan untuk memperkuat pemikiran mengenai kesamaan dan kelestarian komunitas mereka sendiri yaitu Muslim maupun Kristiani dalam mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama dilingkungan sekitarnya.
Komunikasi Agama
Agama dapat dipahami melalui beberapa perspektif, di antaranya perspektif sosiologi, antropologi sosial, dan antropologi kultural. Agama merupakan “religion” dalam Bahasa Inggris, termasuk apa yang disebut agama wahyu, agama natural, dan agama lokal. Agama dalam perspektif sosioantropologi atau ilmu sosial pada umumnya adalah keterkaitan dengan “kepercayaan dan upacara” dimiliki bersama oleh suatu kelompok masyarakat. Dasar pemikiran agama berlaku umum adalah “kepercayaan.” Tremmel dalam Amri Marzali menyebutkan, agama adalah cara-cara manusia berperilaku dalam usaha menghadapi aspek-aspek kehidupan manusia yang menakutkan dan tidak mampu untuk dimanipulasi.” Berbagai teknik intelektual, moral dan ritual dilakukan merupakan cara-cara manusia bertindak menghadapi kehidupannya. Esensi agama manusia adalah suatu kepercayaan dari manusia itu sendiri untuk melakukan tindakan dalam kehidupan beragama. Agama manusia memiliki bentangan yang sangat luas mencakup komunikasi.

Komunikasi sebagai menyokong seluruh hubungan manusia dalam mengorganisasikan kehidupan beragama. Pengorganisasian ini tergantung pada individu sebagai pelaku interaksi menyampaikan pesan melalui hubungan umpan balik dikembangkan. Komunikasi bagian dari proses membangun hubungan beragama manusia. Prasyarat kehidupan manusia adalah komunikasi, dan tidak ada kehidupan manusia jika tidak ada komunikasi. Karena tanpa komunikasi, interaksi antarmanusia tidak mungkin dapat terjadi. Dua individu dikatakan melakukan interaksi apabila masing-masing melakukan aksi dan reaksi. Aksi dan reaksi dilakukan manusia berdasarkan kepercayaan dimiliki merupakan komunikasi agama. Komunikasi agama sebagai kepercayaan dimiliki individu untuk bertindak dalam proses komunikasi melalui interaksi di lingkungan sekitarnya. Komunikasi agama diibaratkan sebagai urat nadi kehidupan manusia.
Komunikasi agama adalah kepercayaan dari manusia dalam lingkungan dan situasi komunikasi yang ada. Atau kata lain, komunikasi agama adalah cara-cara berpikir, berpengetahuan dan berwawasan, berperasaan dan bertindak atau melakukan tindakan dianut individu, keluarga atau masyarakat dalam mencari dan menyebarkan informasi beragama. Komunikasi agama juga berarti cara manusia bertindak berdasarkan kepercayaan dalam mencari dan menyampaikan informasi melalui berbagai saluran yang ada dalam jaringan komunikasi masyarakat setempat. Komunikasi agama berarti cara manusia bertindak berdasarkan kepercayaan dimiliki sebagai pelaku komunikasi, karena di sini komunikasi agama dimaknai sebagai saling berbagi pengalaman beragama.

Penelitian ini berusaha mengungkapkan komunikasi agama komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku pada lingkungan dialami dalam kehidupan sehari-hari dengan melakukan proses interaksi komunikasi agama dalam mewujudkan kehidupan harmonisasi beragama di lingkungan sekitarnya yang telah membentuk dunia mereka yang diyakininya dan berkembang menjadi realitas dalam kehidupan beragama.
Harmonisasi Beragama
Setiap individu memiliki hak paling hakiki dalam kehidupannya adalah beragama. Karena beragama sebagai pengejawantahan dari kepercayaan adanya Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Suatu kepercayaan dari manusia itu sendiri adalah agama, diyakini untuk diaplikasikan dalam kehidupan di lingkungan sekitarnya dan agama itu sendiri memiliki beberapa fungsi dalam kehidupan manusia, seperti perspektif sosioantropologi, secara umum agama berfungsi dalam kehidupan manusia, di antaranya adalah mengatur tindakan manusia, meringankan beban hidup, psikologis, spiritual, tradisi lisan, memberi kenikmatan, menjaga solidaritas, dan menangani masalah-maslah utama kehidupan manusia. Esensi fungsi agama dalam kehidupan manusia adalah “edukatif, penyelamatan, pengawasan sosial, memupuk persaudaraan, dan transformatif.” Kehidupan manusia dimengaruhi agama, dengan mengaruh pada “kebudayaan, sistem sosial, dan kepribadian manusia.” Ketiga aspek ini, fenomena sosial kemasyarakatan yang kompleks dan terpadu, mengaruhnya dapat diamati pada tindakan kehidupan beragama.

Dalam kehidupan beragama pluralistik, kebutuhan untuk “menengok kembali” konsep harmonisasi beragama menjadi kebutuhan, tidak dapat dipisahkan bagi umat beragama. Konsep harmonisasi beragama mengandung nilai-nilai dasar dapat dikembangkan untuk menjadi landasan mewujudkan hubungan antaragama harmonis. Seperti Suparlan menjelaskan kehidupan beragama “sistem pada konsep dipercaya dan menjadi keyakinan secara mutlak, dan upacara-upacara beserta pemuka-pemuka melaksanakannya. Sistem akan mengatur hubungan antara manusia dengan lingkungannya.” Dalam konteks kehidupan beragama, kebenaran ada pada siapa saja yang memyembah Allah SWT., dengan setiap bidang kehidupannya, sebab semuanya adalah berada dalam ruang lingkup realitas Illahi sebagai Wujud Tunggal dan tidak ada paksaan dalam memilah-milah pemeluk agama (Q.S.al-Baqarah: 256). Islam tidak membenarkan adanya pemaksaan dalam memengaruhi individu non Islam untuk memeluk agama Islam. Karena Islam merupakan agama tidak memaksa umat lain untuk menganutnya.
Semua agama harus menjunjung tinggi penyelamatan dan keselamatan manusia, seharusnya para pemeluk agama harus saling bahu-membahu untuk menghadapi masalah, yakni menjaga umat manusia dan lingkungannya dari kerusakan dan pengrusakan. Umat beragama harus saling toleransi, kerjasama, menghindari sikap ethnosenterisme dan fanatisme serta inklusivitas dalam kehidupan beragama. Seperti dijelaskan Muhammad al-Gazali dan Yusuf al-Qardawi dalam Sumartana et al., “masyarakat Islam dibina atas prinsip toleransi, kerjasama dan Inklusivitas dan umat Yahudi dan Kristen yang bersedia hidup berdampingan dengan umat Islam.” Kehidupan harmonisasi beragama bagi setiap individu merupakan kekhasan dari potensi integrasi kehidupan berbagai agama untuk hidup berdampingan, saling menolong, dan bekerjasama, khususnya “basudara samua” Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku.
Harmonisasi beragama merupakan wujud relasi antarumat beragama dalam melakukan tindakan proses interaksi komunikasi agama di lingkungan kehidupan di sekitarnya. Individu melakukan interaksi satu sama lain berarti mereka melakukan “kebersamaan” atau melakukan pertukaran pendapat, pikiran, informasi, kemampuan dan semacamnya. Melalui hubungan dilakukan, dapat diciptakan kebersamaan di antara keterlibatan dalam proses interaksi komunikasi agama. Soekanto menjelaskan bahwa “kehidupan sosial dan interaksi sosial sebagai faktor utama terjadinya tindakan sosial.” Interaksi sosial sebagai proses komunikasi agama dengan mengaruh timbal-balik pada tindakan dilakukan komunitas Muslim-Kristiani berdasarkan pengalaman dan kesadaran untuk mewujudkan keharmonisan kehidupan beragama.

Pengalaman dan kesadaran dalam tindakan komunikasi agama secara subyektif seringkali memunculkan perasaan “etnosentrisme.” Subjekjektivitas pemeluk agama akan melahirkan sikap kebenaran agama. Memunculkan sikap “basudara” dengan agama tertentu, dipandang memiliki persamaan dan juga sikap antipati dan diskriminasi terhadap pemeluk agama lain, dipandang banyak perbedaan dan merugikan keberadaan agama tersebut. Menurut Paul Ngganggung dalam Sumartana et.al, sikap ethnosentrisme adalah “sikap yang selalu mengutamakan kelompok sendiri. Kelompok sendiri selalu dianggap lebih baik dari kelompok golongan lain.” Sikap ini, seringkali komunitas agama miliki untuk melakukan tindakan komunikasi agama yang menganggap agama lain kurang baik. Bahkan sikap seperti ini akan melahirkan sikap-sikap seperti prasangka, streotype, kecurigaan dan lain sebagainya.

Sikap seperti itu, akan memengaruhi tindakan dan merugikan umat beragama lainnya, seperti prasangka beragama merupakan penilaian atas suatu keputusan dan pengalaman sebelumnya yang sifatnya berbentuk negatif maupun positif, namun sebagian besar umat beragama memiliki sifat prasangka lebih cenderung negatif. Menurut Andrew F. Acland dalam Fisher et.al, prasangka “opini mengenai objek, individu, dan kelompok terbentuk terlalu dini, tanpa alasan yang baik atau pengetahuan ataukah pengalaman yang cukup.” Kecenderungannya memengaruhi timbulnya sikap dan tindakan umat beragama jika prasangka yang sudah berlangsung lamadan mengakibatkan kerugian terhadap umat beragama lainnya.
Realitas kehidupan beragama, ada benarnya jika direlasikan prasangka beragama. Prasangka agama lebih cenderung ketimbang prasangka kesukuan. Prasangka beragama cenderung bersikap secara negatif terhadap agama lain lebih tinggi dibandingkan sikap positifnya. Prasangka agama, seperti klaim kebenaran mutlak dan tindakan komunikasi dakwah Islam dan misi Kristen agresif, kecenderungan awalnya pemicu ketegangan, kemudian berakhir dengan tindakan komunikasi negatif dalam beragama, menjadikan dishamonisasi kehidupan beragama.

Setiap agama memiliki misi agama sebagai media pemersatu sosial di antara umat beragama, maka kepercayaan beragama sangat dibutuhkan. Setiap tindakan komunikasi umat beragama diyakini akan terkait dengan sistem kepercayaan dan keyakinan dari ajaran agama dianutnya. Kepercayaan dan keyakinan beragama di sini tercermin pada relegiusitas umat beragama untuk mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku dengan melakukan proses tindakan komunikasi agama untuk mempertemukan kepentingan dan keinginan masing-masing untuk menciptakan simbolik kesamaan “basudara samua” dengan kesepakatan dan keputusan bersama untuk saling hidup berdampingan, toleransi, kebersamaan, dan kekeluargaan sesama umat beragama di Kepulauan Maluku.

Konsep Diri Beragama
Konsep diri merupakan himpunan persepsi atau pemaknaan pada setiap aspek diri, di antaranya penampilan, kemampuan, pengetahuan, kelebihan, dan kekurangan diri. Menurut Brooks dalam Rakhmat, konsep diri “those physical, social, and psychological perceptions of ourselves thaat we have derived from experiences and our interaction with others.” Individu memaknai dirinya melalui pengalaman dan interaksi orang lain dengan membangun konsep diri, kondisi sosialnya dan kondisi psikologisnya. Konsep diri adalah gambaran dan penilaian seseorang individu terhadap dirinya sendiri.
Konsep diri Komunitas Muslim-Kristiani dilandasi oleh pengalaman interaksi beragama yang bersifat simbolik antar dirinya dengan orang lain. Konsep diri dalam pandangan Mead dan Cooley merujuk kepada proses interaksi sosial individu dengan orang lain dan bagi Mead dan Cooley, “diri” muncul karena komunikasi. Konsep diri dibangun Komunitas Muslim-Kristiani melalui proses komunikasi pada interaksi kehidupan beragama lingkungan sekitarnya. Artinya Komunitas Muslim-Kristiani akan merasa diri sebagai “seperti apapun,” lantaran mereka mempersepsikan dirinya atas dasar hasil persepsinya terhadap persepsi orang lain atas dirinya. Konsep diri inilah menjadi landasan bagi pemunculan makna subjektif dari setiap tindakan dilakukan oleh Komunitas Muslim-Kristiani dalam mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama.
Melalui tindakan interaksi, individu akan berubah pengetahuannya, pengalamannya dan kemampuannya sehingga dapat mengubah konsep dirinya. Seperti West dan Turner mengemukakan konsep diri sifatnya stabil, konsisten dalam situasi berbeda, sehingga konsep diri bisa menjadi fleksibel dengan menyesuaikan kondisi tertentu, seperti umur. Konsep diri tidak bersifat permanen akan mengalami perubahan seiring dengan interaksi dilakukannya dengan orang lain. Dengan berinteraksi, individu akan berubah pengetahuannya, pengalamannya dan kemampuannya sehingga dapat mengubah konsep dirinya.

Konsep diri seseorang memiliki dua komponen, yaitu kesadaran diri (self awareness) dan penghargaan diri (self esteem). Kesadaran diri muncul pertama kali melalui kehadiran orang-orang terdekatnya (significant others), seperti orang tua dan anggota keluarganya yang lain membantunya mengenali diri. Sedangkan penghargaan diri terbentuk melalui evaluasi mengenai perasaan diri meliputi bakat, kemampuan, pengetahuan, keahlian, dan penampilan. Penghargaan diri meliputi peran sosial seperti misalnya keterlibatan tindakan komunikasi ritual, pembangunan masjid, makan patitah ditambah dengan penilaian orang lain mengenai peran sosial tersebut. Konsep diri merupakan faktor sangat menentukan dalam komunikasi interpersonal, karena tindakan individu berkomunikasi sesuai dengan konsep dirinya. Individu dengan konsep dirinya negatif misalnya, akan beraksi negatif sekalipun mendapat pujian atau penghargaan dari orang lain. Sebaliknya individu memiliki konsep diri positif akan bereaksi positif sekalipun mendapatkan kecaman atau kritikan dari orang lain.
Secara umum, konsep diri komunitas Muslim-Kristiani dipahami sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian terhadap dirinya menganut kepercayaan. Konsep diri bagian dari perasaan dan pemikiran individu Muslim-Kristiani mengenai dirinya sendiri, meliputi “kemampuan, karakter diri, sikap, tujuan hidup, kebutuhan dan penampilan diri.” Pemahaman konsep diri dapat pula ditelusuri melalui penyataan Mulyana “self-conception is a process resulting from one’s social interaction with others.” Individu memiliki konsep diri tergantung pengalaman sadar dari hasil interaksi komunikasi agama komunitas Muslim-Kristiani dengan lingkungan sekitarnya.

Landasan Teoretis
Tindakan Sosial
Fenomena komunitas Muslim-Kristiani dalam proses interaksi komunikasi agama di lingkungan sekitarnya dapat diteropong dengan teori tindakan sosial dari Max Weber (1864-1920). Bagi Weber, tidak semua tindakan manusia disebut sebagai tindakan sosial. Tindakan manusia dianggap tindakan sosial, jika tindakan berkaitan dengan perilaku orang lain yang berorientasi pada tindakan orang lain. Jadi, tindakan sosial merupakan tindakan manusia yang mempunyai makna subjektif bagi pelakunya.
Tindakan sosial Weber ini dapat digunakan sebagai pijakan dalam memahami fenomena pengalaman komunikasi agama komunitas Muslim-Kristiani kepulauan di Provinsi Maluku. Karena menurut pandangan Weber, Komunitas Muslim-Kristiani melakukan tindakan sosial dalam konteks kajian ini bagaimana mereka bertindak memaknai dan perlakuan penerimaan serta pengalaman komunikasi agama dialami berdasarkan interpretasi subjektif. Artinya Komunitas Islam-Kristen melakukan proses interaksi komunikasi agama terhadap suatu kelompok objek berdasarkan pemahaman, pemaknaan dan interpretasinya terhadap objek tersebut.
Fenomenologi
Teori digunakan adalah teori fenomenologi, Alfred Schutz. Pengalaman dirasakan oleh subjek memiliki makna bagi para subjek itu sendiri dan pengalaman dirasakan saling berkesinambungan satu sama lain. Fenomenologi sendiri menggambarkan mengenai makna berasal dari pengalaman hidup bagi beberapa individu mengenai konsep atau fenomena dan berdasarkan pada pengalaman sadar seseorang. Pendekatan fenomenologis berasumsi bahwa manusia adalah makhluk kreatif, berkemauan bebas, dan memiliki beberapa sifat subjektif lainnya. Menurut Husserl subjek menciptakan dunianya sendiri menurut perspektifnya sendiri yang berbeda dari subjek-subjek lain, sehingga tercipta dunia yang subjektif dan bersifat relatif.

Fokus utama analisis fenomenologi sebagaimana dikemukakan Schutz dan kaum fenomenologis adalah bagaimana merekonstruksi dunia kehidupan manusia “sebenarnya” dalam bentuk yang mereka sendiri alami. Realitas dunia tersebut bersifat intersubjektif dalam arti bahwa anggota masyarakat berbagi persepsi dasar mengenai dunia yang mereka internalisasikan melalui sosialisasi dan memungkinkan mereka melakukan interaksi atau komunikasi. Fenomenologi menurut Schutz dalam Mulyana adalah pemahaman atas tindakan, ucapan, dan interaksi yang merupakan prasyarat bagi eksistensi sosial siapapun. Bagi Schutz, tindakan manusia adalah bagian dari posisinya dalam masyarakat, sehingga tindakan individu itu bisa jadi hanya merupakan kamuflase atau peniruan dari tindakan orang lain yang ada disekelilingnya. Peneliti menggunakan teknik untuk mendekati dunia kognitif objek penelitian.

Komunitas Muslim-Kristiani mempelajari makna dalam melakukan tindakan proses komunikasi melalui interaksi komunikasi agama. Pengalaman komunikasi agama pada masa lalu dapat memengaruhi bagaimana pendapat mereka di masa depan dalam menentukan tujuan maupun mengambil keputusan. Pembentukan makna melalui proses komunikasi karena makna tidak bersifat intrinsik terhadap apapun. Dibutuhkan konstruksi interpretif di antara mereka untuk menciptakan makna diri beragama. Bahkan tujuan dari interaksi adalah untuk menciptakan makna yang sama. Tanpa makna komunikasi akan menjadi sangat sulit, bahkan mungkin komunikasi itu tidak dapat terjadi. Makna kita bagi bersama dengan orang lain, pemaknaan kita mengenai dan respon kita terhadap sebuah realitas merupakan hasil dari suatu proses interaksi untuk memperoleh gambaran secara utuh dan menyeluruh mengenai pemaknaan dan perlakuan penerimaan serta pengalaman komunikasi agama komunitas Muslim-Kristiani di lingkungan dialami dalam kehidupan sehari-hari.
Pengalaman komunikasi agama bisa terjadi karena adanya proses komunikasi dan interaksi antar umat beragama. Komunikasi agama adalah pusat paling sentral dalam mempertahankan keberlangsungan hidup individu dan menjalin hubungan antar umat beragama. Frank Dance menggambarkan proses komunikasi dengan menggunakan sebuah spiral. Pengalaman komunikasi agama bersifat kumulatif dan dimengaruhi masa lalu. Pengalaman di masa sekarang secara tidak terelakkan akan memengaruhi masa depan seseorang, penekanan pada proses komunikasi tidak linear dan komunikasi, dianggap sebagai proses yang berubah seiring dengan waktu dan berubah di antara orang-orang berinteraksi.

Setiap peristiwa dialami Komunitas Islam-Kristen akan menjadi sebuah pengalaman bagi dirinya. Pengalaman diperoleh mengandung suatu informasi atau pesan tertentu. Informasi yang diperoleh akan diolah menjadi suatu pengetahuan. Berbagai peristiwa dialami dapat menambah pengetahuan dirinya. Suatu peristiwa mengandung unsur komunikasi akan menjadi pengalaman komunikasi agama tersendiri bagi dirinya, dan pengalaman komunikasi agama dianggap penting akan menjadi pengalaman yang paling diingat dan memiliki dampak khusus bagi dirinya dan pengalaman mereka bisa sama. Namun makna dari pengalaman itu berbeda-beda bagi setiap komunitas agama. Maknalah membedakan pengalaman dirinya dengan pengalaman komunitas agama lainnya. Makna juga membedakan pengalaman yang satu dan pengalaman lainnya. Komunitas Muslim-Kristiani kepulauan di Provinsi Maluku berbagi pengalaman untuk mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama. Komunitas Muslim-Kriatiani melakukan tindakan komunikasi untuk berbagi dan bertukar informasi dari berbagai hal yang telah dialami. Pengalaman masa lalu bisa memengaruhi pemaknaan bagi setiap diri komunitas Muslim-Kristiani.
Interaksi Simbolik
Teori interaksi simbolik, sesungguhnya masih berada dalam payung perspektif fenomenologis menganggap kesadaran manusia dan makna subjektif sebagai titik fokus dalam memahami tindakan sosial. Teori ini digunakan dalam memandu dengan meneropong fenomena komunikasi agama komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku.
Bogdan dan Taylor dalam Mulyana mengemukakan interaksi simbolik, “salah satu dari pendekatan utama dalam tradisi fenomenologis.” Senada dengan pemikiran fenomenologis, seorang tokoh interaksionalis simbolik, George Herbert Mead dalam Sulaeman berpendapat “realitas sosial merupakan sebuah proses. Proses dimaksud dalam pemikiran Mead adalah proses kala individu menjadi bagian dari masyarakat.” Istilah lain interaksi simbolik adalah internalisasi yang merujut pada suatu peristiwa di saat diri melakukan interpretasi subjektif atas realitas objektif yang merupakan hasil dari “generalisasi” orang lain. Perspektif interaksi simbolik (George Herbert Mead (1863-1932) dan Herbert Blumer (1900-1987) melihat realitas sosial diciptakan manusia melalui interaksi makna-makna disampaikan secara simbolik. Simbol-simbol tercipta dari esensi di dalam diri manusia saling berhubungan.
Perspektif interaksi simbolik mengutamakan kesadaran pemikiran, dan diri menjelaskan makna dan simbol-simbol dipikirkan oleh komunitas Muslim-Kristiani dalam menentukan tindakannya. Melalui simbol diciptakan, dipikirkan dan dipahami dapat dijadikan sebagai dasar bagi komunitas Muslim-Kristiani dalam melakukan tindakan komunikasi agama secara verbal maupun nonverbal dalam mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama di Kepulauan Maluku.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
Paradigma Penelitian
Paradigma, cara mendasar untuk mempersepsi, berpikir, menilai dan melakukan yang berkaitan realitas kehidupan sosial. Menurut Harmon dalam Moleong, paradigma “kumpulan longgar dari sejumlah asumsi, konsep, atau proposisi yang berhubungan secara logis, mengarahkan cara berpikir dan penelitian.” Baker dalam Moleong, paradigma dimaknai suatu perangkat aturan, (a) membangun atau memahami  batas-batas, dan (b) menjelaskan bagaimana sesuatu harus dilakukan dalam batas-batas itu agar berhasil.

Paradigma diistilahkan perspektif dalam bidang keilmuan. Seperti dikemukakan Mulyana, “perspektif dalam bidang keilmuan disebut paradigma (paradigm), kadang-kadang disebut mazhab pemikiran (schol of thought) atau teori.” Model, kerangka konseptual, kerangka pikiran, strategi intelektual, pendekatan, dan pandangan dunia diidentikkan dengan “perspektif.” Seperti dikemukakan Mulyana, “paradigma merupakan cara pandang memahami kompleksitas dunia nyata.” Paradigma menunjukkan kepada mereka apa yang penting, absah dan masuk akal. Paradigma bersifat normatif, menunjukkan kepada praktisinya apa yang harus dilakukan tanpa perlu melakukan pertimbangan eksistensial atau epistemologis yang panjang.
Paradigma, cara pandang atau cara berpikir peneliti memahami suatu realitas sosial. Cara pandang tersebut berguna sebagai rambu-rambu dalam melakukan suatu penelitian agar tujuan diperoleh dapat berhasil dengan baik. Berarti paradigma digunakan peneliti dapat membantu dan mengarahkan memahami suatu masalah serta kriteria pengujian sebagai landasan untuk menjawab masalah ataukah paradigma sebagai perangkat konsep, keyakinan, asumsi, nilai, metode, atau aturan yang membentuk kerangka kerja pelaksanaan sebuah penelitian.
Berdasarkan pemahaman tersebut, penelitian ini menggunakan paradigma interpretif (interpretive paradigm) bersifat subjektif memandang manusia sebagai makhluk aktif yang mempunyai kebebasan berkemauan dan berkehendak yang tindakanya hanya dapat dipahami dalam konteks budayanya. Mulyana menjelaskan, “studi pendekatan subjektif sering disebut studi humanistik yang sering disebut humaniora (humanisties).” Pengetahuan tidak memiliki sifat objektif dan tetap, namun bersifat interpretatif dalam pendekatan subjektif. Seperti dikemukakan Mulyana, humaniora menekankan pada aspek “kedisinian” mencari interpretasi alternatif. Realitas sosial dalam perspektif subjektif merupakan kondisi yang cair dan mudah berubah melalui interaksi manusia dalam kehidupan sehari-hari. Taylor dalam Denzin dan Lincoln mengungkapkan, para peneliti interpretif berusaha melakukan pembacaan atau makna tindakan sosial pada interpretasi tertentu, dianggap untuk diinterpretasi jelas menjadi interpretasi tersendiri. Makna dibentuk atau dihasilkan, jika keterlibatan peneliti dalam membaca atau menginterpretasi kata-kata yang ditemukan.
Aspek epistemologisnya, paradigma interpretif menganggap peneliti sebagai instrument utama pengumpul data sehingga keterlibatan peneliti dalam proses pengumpulan data hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan, khususnya dalam proses analisis dan penarikan kesimpulan. Induksi analitis digunakan adalah pendekatan pengolahan data ke dalam konsep dan kategori, jadi bukan dalam bentuk frekuensi, tidak dalam bentuk numerik, melainkan dalam bentuk deskripsi bahasa yang mengubah data ke dalam penjelasan bersifat formulatif. Pengambilan kesimpulan dilakukan secara simultan pada saat proses induksi analitis secara bertahap dari satu makna ke makna lainnya, kemudian dirumuskan dalam bentuk teoritis.
Dalam penelitian ini, paradigma interpretif bersifat subjektif sebagai pijakan dasar memahami komunikasi agama komunitas Muslim-Kristiani yang bersifat subjektif menentukan pengalaman dalam melakukan tindakan proses komunikasi dalam mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama di Kepulauan Maluku. Kesadaran dan pengalaman inilah membentuk pemaknaan akan suatu realitas sosial dengan menggunakan studi fenomenologi.
Metode Penelitian
Guna mencapai tujuan penelitian, metode penelitian yang digunakan adalah “kualitatif,” untuk mengeksplorasi individu dengan interpretasi komunikasi agama komunitas Muslim-Kristiani, karena dianggap paling tepat untuk meneliti dan menganalisis makna diri beragama, konsep diri beragama, dan pengalaman komunikasi agama untuk mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama yang tidak terlepas dari kepercayaan dimiliki. Seperti dijelaskan Creswell, tujuan metode kualitatif, untuk memahami makna yang oleh sejumlah personal atau kolektif orang dianggap berasal dari masalah sosial dan atau kemanusian. Bagi komunitas Muslim-Kristiani merupakan sebuah pengalaman diri serangkaian peristiwa dialami berbagai tahapan yang tidak dapat di ukur secara pasti sehingga hanya dapat dijelaskan metode kualitatif.

Untuk mempelajari metode kualitatif harus dilakukan secara sistematis, terarah dan efektif. Metode kualitatif memiliki beberapa asumsi-asumsi, seperti dijelaskan Creswell dalam Bungin, di antaranya adalah.
Peneliti kualitatif lebih memperhatikan proses daripada hasil.

Peneliti kualitatif lebih memperhatikan interpretasi.

Peneliti kualitatif merupakan alat utama dalam pengumpulan data dan analisis data serta peneliti harus terjun langsung ke lapangan, melakukan observasi partisipan di lapangan.

Menggambarkan bahwa peneliti terlibat dalam proses penelitian, interpretasi data, dan pencapaian pemahaman melalui kata atau gambar.

Proses penelitian bersifat induktif di mana peneliti yang diperoleh membuat konsep, hipotesa dan teori berdasarkan data lapangan yang diperoleh serta terus-menerus mengembangkannya di lapangan dalam proses jatuh bangun.

Keadaan dan kondisi komunitas Muslim-Kristiani dalam melakukan tindakan proses interaksi komunikasi agama di Kepulauan Maluku perlu diteliti sesuai kesadaran, pengalaman dan pemahaman mereka melalui metode kualitatif dengan pendekatan interpretatif subjektif. Penelitian ini berusaha menggambarkan dan menjelaskan bagaimana komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku mengkonstruksi dirinya beragama yang membentuk konsep diri, dan konsep diri itu digunakan dalam mereaksikan dirinya pada lingkungannya.” Tindakan komunitas Muslim-Kristiani bersumber dari pengalaman komunikasi agama melalui interaksi komunikasi yang tidak terlepas dari penilaian dan kepercayaan dimiliki bersumber dari rangkaian proses pemahaman dialami dalam kehidupan sehari-harinya telah membentuk dunia sosial diyakininya dan berkembang menjadi realitas dalam kehidupan beragama.

Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini terfokus pada komunitas Muslim-Kristiani, diperoleh pada penjajakan awal sebanyak limapuluh orang, pertimbangan masing-masing duapuluh lima personal Muslim dan Kristiani diperoleh dari Kepulauan Ambon, Kabupaten Buru, Seram Bagian Barat, Kepulau Aru, Maluku Tenggara Barat, dan Maluku Tengah sebagai lokasi penelitian. Penelitian ini melibatkan subyek penelitian, berasal dari kalangan pemimpin agama, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, pengurus masjid-gereja, masyarakat Muslim-Kristiani dengan pertimbangan bahwa merekalah dianggap memiliki karakteristik penting dan mengetahui informasi yang akan diteliti serta memiliki proses interaksi komunikasi agama. Peneliti menentukan informan dengan cara purposive, dipilih berdasarkan pertimbangan agama dengan tujuan tertentu, merekalah yang dapat menjelaskan ataukah memberikan informasi akan diteliti.

Penentuan Informan Kunci
Pemilihan informan dilakukan dengan strategi purposive berdasarkan pertimbangan dan tujuan tertentu peneliti. Informan kunci dalam penelitian ini, berasal dari kalangan pemimpin agama, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, pengurus masjid-gereja, masyarakat Muslim-Kristiani. Penentuannya didasarkan pada kualitas informasi yang didapatkan berdasarkan kerangka pengalaman dialami personal Muslim-Kristiani tersebut.
Pertimbangan pemilihan informan dipilih secara purposive harus memenuhi kriteria sebagaimana dikemukakan Bogdan dan Taylor meliputi (a) informan penelitian bersedia menerima kehadiran peneliti, (b) memiliki kemampuan dan kemauan untuk menyampaikan pengalaman mereka pada masa lalu dan masa sekarang, dan (c) memiliki pengalaman berkesesuaian yang akan diteliti.

Pertimbangan kriteria tambahan pemilihan komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku sebagai informan yang ditetapkan peneliti agar data dikumpulkan dapat menunjang penyelesaian batasan masalah penelitian. Dijadikan Muslim-Kristiani sebagai informan dengan pertimbangan bahwa merekalah dianggap memiliki karakteristik penting dan mengetahui informasi akan diteliti serta mereka memiliki interaksi komunikasi agama di lingkungan sekitarnya.

Objek Penelitian
Komunikasi agama sebagai objek penelitian meliputi (a) makna diri beragama, (b) konsep diri berdasarkan pengalaman beragama, perasaan beragama, dan perlakuan penerimaan beragama, dan (c) pengalaman komunikasi agama untuk mewujudkan harmonisasi kehidupan beragama yang tidak terlepas dari penilaian dan kepercayaan dimiliki yang bersumber dari rangkaian proses pemahaman dialami dalam kehidupan sehari-harinya.

Sumber Data Penelitian
Data dalam penelitian ini bersumber dari data primer dan sekunder. Data primer bersumber dari kata-kata dan tindakan yakni semua aspek yang ditangkap dari subjek diteliti. Kata-kata, tindakan, sikap, kebiasaan, dan perilaku dari personal maupun kolektif Muslim-Kristiani, sehingga bisa menentukan dan menggambarkan bagaimana proses komunikasi agama komunitas Muslim-Kristiani. Sumber data primer juga berasal dari berbagai proses interaksi kehidupan beragama dalam kaitannya pemaknaan pemahaman pesan-pesan komunikasi agama. Kesemuanya akan menjadi bahan pengamatan peneliti dan dijadikan sebagai rujukan objektif untuk menunjang keabsahan data. Sumber data lainnya adalah data sekunder, diperoleh dari berbagai sumber berhubungan dengan hal-hal yang diteliti berupa buku, majalah, surat kabar, jurnal, hasil penelitian, serta literatur-literatur lainnya berkaitan dengan masalah penelitian.

Cara Penentuan Sumber Data
Cara penentuan sumber data diperoleh melalui wawancara dengan informan kunci (key informan), mengamati kata-kata, tindakan, sikap, kebiasaan, dan perilaku dari komunitas Muslim-Kristiani melalui interaksi komunikasi agama di lingkungan sekitarnya yang juga didukung rujukan data sekunder berupa literatur dan sumber data penunjang lainnya untuk memperkuat data yang sudah didapatkan dari lapangan, sehingga semua sumber data tersebut saling melengkapi.
Peneliti melakukan aktivitas dalam upaya pengumpulan data memulainya dengan menentukan tempat atau individu, proses mencari untuk mendapatkan akses untuk berhubungan dengan informan, strategi penentuan pemilihan informan, pengumpulan data, lalu merekamnya, memilah data atau informasi, dan menyimpannya, begitu seterusnya sampai diperoleh hasil yang memadai.

Teknik Pengumpulan Data
Menurut Creswell, pada studi kualitatif terdapat empat tehnik untuk mengumpulkan data. Untuk memperoleh data dibutuhkan, peneliti menggunakan tiga tehnik pengumpulan data, yaitu wawancara mendalam, pengamatan terlibat, dan studi dokumentasi.
Wawancara Mendalam
Wawancara mendalam dilakukan dengan tujuan mengumpulkan keterangan atau data mengenai objek penelitian yaitu komunikasi agama informan dalam kesehariannya di suatu lingkungan. Wawancara mendalam bersifat terbuka dan tidak terstruktur serta dalam suasana yang tidak formal. Sifat terbuka dan tidak terstruktur ini maksudnya adalah pertanyaan-pertanyaan dalam wawancara tidak bersifat kaku, namun bisa mengalami perubahan sesuai situasi dan kondisi dilapangan (fleksibel) dan ini hanya digunakan sebagai guidance. Sedangkan wawancara dalam situasi tidak formal adalah wawancara bisa dilakukan dengan ngobrol santai tanpa menjadi kaku atau kikuk yang dikarenakan adanya “jarak” antara peneliti dengan informan.
Peneliti dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan suasana nyaman, bisa juga diselingi humor dan informan pun dapat dengan leluasa menjawab pertanyaan-pertanyaan, tanpa canggung, takut, maupun perasaan-perasaan lainnya yang membuat tidak nyaman. Dalam wawancara untuk mencari pemahaman peneliti menggunakan wawancara tidak berstruktur. Peneliti membangun hubungan dilandasi pemahaman empati yang merupakan sikap dalam berkomunikasi dengan memperhatikan secara sungguh-sungguh lawan bicara sebagai seorang pribadi, tanpa kontaminasi oleh evaluasi atau penilaian perasaan, pikiran, dan perilaku lawan bicara dan membiarkan ekspresi perasaan atau ide-ide informan mengalir senatural mungkin.
Upaya dilakukan peneliti berkenaan dengan wawancara mendalam ini adalah peneliti secara terencana menentukan terlebih dahulu beberapa hal seperti halnya informan kunci, topik wawancara berhubungan dengan masalah penelitian, pedoman wawancara, serta membuat kesepakatan mengenai waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan wawancara mendalam dilakukan bersama-sama antara peneliti dengan informan.
Secara teknis, gambaran selama melakukan pra penelitian di lapangan, peneliti berupaya maksimal untuk melakukan kegiatan pengumpulan data melalui teknik wawancara mendalam dengan berpegang pada beberapa pertanyaan pokok atau pedoman wawancara yang telah peneliti persiapkan sebelumnya.

Pada pra pelaksanaan atau operasionalisasinya di lapangan, peneliti selalu berusaha untuk memperhatikan atau mencermati setiap jawaban diberikan oleh informan secara seksama. Hal tersebut dilakukan oleh peneliti dengan dasar pertimbangan bahwa melalui langkah atau strategi seperti itu, peneliti memiliki peluang untuk bisa mengajukan lagi sejumlah pertanyaan turunan atau pertanyaan bersifat pengembangan atas pertanyaan pokok dalam rangka merespons jawaban atau informasi disampaikan oleh informan pada saat berlangsungnya wawancara mendalam (in-depth interview). Pertimbangan lain mendasari upaya peneliti untuk selalu peka pada topik dan jawaban-jawaban sementara yang diberikan oleh informan adalah agar melalui langkah strategis tersebut peneliti juga dimampukan untuk mengadakan penelusuran dan pendalaman terhadap apa dialami dan dirasakan oleh informan berkaitan dengan masalah yang sedang diteliti.

Pengamatan Terlibat
Teknik ini digunakan untuk memperoleh pengetahuan, tidak terbahasakan yang tidak didapat hanya dari wawancara. Seperti dinyatakan Denzin dalam Mulyana, “pengamatan berperan serta adalah strategi lapangan secara simultan memadukan analisis dokumen, wawancara, partisipasi dan observasi langsung sekaligus dengan introspeksi.” Penelitian lapangan peneliti turut terlibat langsung ke dalam berbagai tindakan interaksi komunikasi agama dilakukan komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku.
Peneliti menggunakan teknik partisipasi observasi (participant observation) ini dengan maksud agar peneliti dapat melihat, mendengar, dan bahkan ikut merasakan kehidupan beragama komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku. Selama mengikuti komunikasi agama dilakukan komunitas Muslim-Kristiani, peneliti melengkapi diri dengan peralatan penelitian antara lain alat tulis, tape recorder, dan kamera. Keterlibatan peneliti dalam pelaksanaan berbagai tindakan interaksi komunikasi agama untuk memperoleh data yang dapat diperoleh secara langsung melalui teknik pengamatan peneliti lakukan.
Teknik ini lebih memungkinkan peneliti mengamati hal-hal yang dilakukan informan, menyimak, maupun menanyai informan dan orang-orang di sekitarnya dalam situasi riil di mana terdapat setting yang riil tanpa dikontrol atau di atur secara sistematis. Metode ini memungkinkan peneliti terjun langsung dalam tindakan interaksi komunikasi agama dilakukan komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku dengan mengacu pada pedoman pengamatan.

Studi Dokumentasi
Pustaka yang diteliti dalam penelitian ini berbentuk dokumen, baik dokumen pribadi maupun dokumen resmi. Seperti pernyataan, peneliti menelaah dokumen historis dan sumber-sumber sekunder lainnya. Dokumen maupun bukti catatan seringkali dibutuhkan peneliti sebagai bukti pendukung. Telaah dokumen dengan jenis tinjauan integratif sebagaimana dikemukakan Cooper dalam Kuswarno, “tinjauan terhadap pengetahuan yang sudah pasti melalui literatur-literatur berhubungan dengan topik penelitian akan dilakukan.”
Dokumentasi untuk melengkapi dan mengumpulkan data yang belum diperoleh dari wawancara mendalam dan pengamatan. Dokumentasi akan peneliti dilakukan untuk memperoleh data dari tulisan dan atau berupa catatan-catatan yang berlaku dalam komunitas Muslim-Kristiani dalam kaitannya dengan komunikasi agama, dan juga melalui foto-foto, rekaman sebagainya.

Analisis Data
Menurut Creswell, metode kualitatif menggunakan cara analisis data yang tidak umum, namun proses analisis kualitatif selaras dengan bentuk penelitian umum. Menampilkan suatu bentuk umum analisis data spiral untuk menganalisis data kualitatif. Melakukan analisis data kualitatif, peneliti terikat pada proses yang bergerak dalam siklus analitik bukan menggunakan pendekatan linier yang tetap. Pada saat peneliti mendekati data teks atau gambar, peneliti akan berhubungan dengan beberapa jalur analisis dan siklus yang berputar, maka akhirnya akan menghasilkan kesimpulan atau narasi.

Menurut Bogdan dan Biklen dalam Moleong, analisis data kualitatif adalah upaya dilakukan dengan jalan bekerja melalui data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan merumuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.

Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif, analisis data dilakukan secara induktif. Analisis data kualitatif tidak hanya sekedar untuk menggambarkan data tersebut. Seperti dikemukakan Bungin, model tahapan analisis induktif (a) melakukan pengamatan terhadap fenomena sosial, melakukan identifikasi, revisi-revisi dan pengecekan ulang terhadap data yang ada, (b) melakukan kategorisasi terhadap informasi yang diperoleh, (c) menelusuri dan menjelaskan kategorisasi, (d) menjelaskan hubungan-hubungan kategorisasi, (e) menarik kesimpulan-kesimpulan umum, dan (f) membangun atau menjelaskan teori.
Lebih lanjut, Mile dan Hubermas dalam Salim menjelaskan, “data diperoleh dari lapangan dianalisis melalui tiga alur kegiatan pengolahan data kualitatif dilakukan secara bersamaan yakni reduksi data, penyajian data, penarikan simpulan dan verifikasi.”
Reduksi Data
Reduksi data adalah suatu proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan tertulis di lapangan. Pada proses ini semua data diperoleh dari hasil wawancara dengan informan, pengamatan partisipan terhadap pembicaraan, sikap dan tindakan mereka dikategorisasikan pada pertanyaan penelitian yang telah dielaborasi menjadi pedoman wawancara dan pengamatan. Adapun hasil rekaman ditulis dalam bentuk transkrip per-informan untuk ditambahkan dengan hasil pengamatan dan dokumen yang berhubungan dengan informan.
Data tersebut dipilah dan disusun untuk dijadikan konstruk derajat pertama berdasarkan tema-tema, seperti makna diri beragama, konsep diri beragama, dan pengalaman komunikasi agama komunitas Muslim-Kristiani sehingga terbentuklah penyajian data.
Penyajian Data
Penyajian data (data display) adalah susunan sekumpulan informasi memungkinkan penarikan simpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data kualitatif digunakan adalah dalam bentuk teks.

Penyajian data, peneliti dapat melihat adanya sejumlah kategorisasi dan pola berhubungan dengan pertanyaan penelitian. Pola hubungan tersebut memudahkan peneliti untuk pengambilan simpulan dan verifikasi mengenai makna diri beragama, konsep diri beragama, dan pengalaman komunikasi agama komunitas Muslim-Kristiani. Data tersebut dipilah dan disusun untuk dijadikan konstruk derajat pertama berdasarkan tema-tema.
Penarikan Simpulan
Penarikan simpulan (verifikasi), peneliti berusaha menarik kesimpulan berupa proposisi, kategorisasi dan model berhubungan dengan makna, konsep diri, dan pengelaman komunikasi agama pada komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku. Setiap proposisi, kategorisasi, dan model di susun dan diperkuat berdasarkan konstruk derajat pertama dan referensi teori dan konsep relevan telah berbentuk kesimpulan, kemudian diverifikasi hingga diperoleh konklusi yang valid dan kokoh mengenai makna, konsep diri, dan pengalaman komunikasi agama komunitas Muslim-Kristiani kehidupan beragama di Kepulauan Maluku.
Ketiga alur kegiatan pengolahan data kualitatif merupakan tahapan yang luwes, dalam arti tidak terikat oleh kronologi yang kaku dan analisisnya dilakukan secara kontinyu dari awal sampai akhir penelitian sebagaimana digambarkan dalam skema berikut ini.

17491897057 Masa pengumpulan data
REDUKSI DATA
Antisipasi Selama Pasca
PENYAJIAN DATA
Antisipasi Selama Pasca
PENARIKAN KESIMPULAN/VERIFIKASI
Antisipasi Selama Pasca
00 Masa pengumpulan data
REDUKSI DATA
Antisipasi Selama Pasca
PENYAJIAN DATA
Antisipasi Selama Pasca
PENARIKAN KESIMPULAN/VERIFIKASI
Antisipasi Selama Pasca

1716764152400036963351206500171850317272000
496857116619A
N
A
L
I
S
I
S
00A
N
A
L
I
S
I
S
17202159911500464855912752500997033638590044471816811100
9975859406200
445927415275900
985906285470017133682918300100766217180900
4445911749300098654213467500170080613716000
9892479008700
Sumber data: Miles dan Huberman, 1992 dalam Salim
Komponen Analisis Data Model Alir (Flow Model)
Komponen analisis data tersebut menggambarkan tahapan upaya dilakukan peneliti, diawali pengumpulan data hasil wawancara dari komunitas Muslim-Kristiani. Hasil wawancara ditranskripkan ke dalam tulisan, dilengkapi data sudah terkumpul dari hasil pengamatan yang dicatat dalam buku. Langkah berikutnya adalah data direduksi berdasarkan satuan tema yang telah ditentukan peneliti melalui pertanyaan penelitian, telah di elaborasi ke dalam pedoman wawancara.
Setelah data dipilah, diperoleh kategori makna diri beragama, konsep diri beragama, dan pengalaman komunikasi agama komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku. Kategori data hasil penelitian dilakukan dengan cara penyajian data untuk dianalisis sehingga memudahkan peneliti untuk memperoleh benang merah sebagai bahan pembuatan simpulan dan verifikasi.

Penarikan simpulan dan verifikasi dilakukan peneliti melalui interpretasi data sesuai dengan konteks batasan masalah penelitian serta dihubungkan dengan tujuan penelitian. Verifikasi ini diperoleh simpulan untuk menjawab makna diri beragama, konsep diri beragama, dan pengalaman komunikasi agama komunitas Muslim-Kristiani dalam membangun harmonisasi kehidupan beragama di Kepulauan Maluku, diverifikasi dengan data lainnya ataupun dengan para informan.
Lokasi Penelitian
Lokasi Penelitian dilakukan pada komunitas Muslim-Kristiani di Kepulauan Maluku, diperoleh dari Kepulauan Ambon, Kabupaten Buru, Seram Bagian Barat, Kepulauan Aru, Maluku Tenggara Barat, dan Kabupaten Maluku Tengah dengan pertimbangan (1) intensitas kegiatan tindakan interaksi sosial, budaya, dan keagamaan dilaksanakan keterlibatan komunitas Muslim-Kristiani, (2) memiliki karakteristik dan potensi menumbuhkan sikap dan tindakan komunikasi fanatisme dan stereotype beragama, dan (3) pembauran proses komunikasi melalui interaksi dengan segregasi wilayah pemukiman atas dasar agama.
Validasi dan Reliabilitas Data
Guna mengatasi penyimpangan dalam menggali, mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data hasil penelitian, peneliti melakukan uji validitasi data dengan cara peneliti melakukan triangulasi data baik dari segi sumber data maupun triangulasi metode. Data dikumpulkan diperiksa kembali bersama-sama dengan informan. Langkah ini memungkinkan dilihat kembali akan kebenaran informasi dikumpulkan. Dilakukan juga cross check data kepada narasumber lain dianggap paham terhadap masalah diteliti.
Triangulasi metode dilakukan untuk mencocokkan informasi diperoleh dari satu teknik pengumpulan data (wawancara mendalam) dengan teknik pengamatan partisipan. Penggunaan teori aplikatif juga merupakan atau bisa dianggap sebagai triangulasi metode, seperti menggunakan teori tindakan sosial, fenomenologi, dan interaksi simbolik yang pada dasarnya adalah praktik triangulasi dalam penelitian ini. Penggunaan triangulasi mencerminkan upaya untuk mengamankan pemahaman mendalam mengenai unit analisis. Unit analisis dalam penelitian ini adalah makna diri beragama, konsep diri beragama, dan pengalaman komunikasi agama komunitas Muslim-Kristiani di lingkungan sekitarnya.
Realibilitas data dapat dilakukan dengan menerapkan prosedur fielnote atau catatan lapangan. Upaya ini semakin dipermudah dengan penggunaan perekam digital untuk kepentingan tertentu, seperti catatan lapangan digunakan jika tidak menganggu proses wawancara.

Jadwal Penelitian
Penelitian ini direncanakan menghabiskan waktu mulai dari observasi awal ke lapangan, seminar proposal, perbaikan proposal, pengambilan data di lapangan, penyusunan naskah laporan penelitian, proses publikasi melalui jurnal, penerbitan buku ISBN maupun hak kekayaan intelektual dan diperkirakan duabelas bulan sebagaimana disajikan dalam matrik.

No Kegiatan/
Penanggungjawab BULAN 2018
Jan Feb Mar Aprl Mei Jun Jul Agt Sept Okt Nov Des
1. Persiapan Penelitian Observasi awal penelitian Diskusi tim sejawat Desain daftar pertanyaan pengamatan dan wawancara mendalam Pembuatan desain Penelitian 2. Pelaksanaan Penelitian Diskusi tim sejawat Perbaikan daftar pertanyaan pengamatan dan wawancara mendalam Pengumpulan data lapangan Reduksi data Penyajian data Penarikan simpulan Penulisan laporan penelitian Pembuatan Dummy Buku Excecutive Summary 3. Pasca Penelitian Pengiriman laporan penelitian Pengurusan hak kekayaan intelektual Publikasi jurnal nasional terakreditasi Pengurusan ISBN dan penerbitan buku DAFTAR PUSTAKA
Basrowi dan Sukidin. Metode Penelitian Kualitatif: Perspektif Mikro. Surabaya: Insan Cendikia, 2002.
Berger, Peter Ludwiq and Thomas Luckmann. The Social Construction of Reality: A Treatise in The Sociology of Knowledge. New York: Anchor Books, 1966.
Bogdan, Robert, and Steven J. Taylor. Introduction to Qualitative Research Methods: A Phenomenological Approach to the Social Science. New York: John Wiley and Son, 1975.

Budiyono, H.D. A.P., Membina Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama. Cet.I; Yogyakarta: Kanisius, 1983.

Bungin, Burhan. Metodologi Penelitian Kualitatif: Aktualisasi Metodologis kearah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2003.

——-, Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan, Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Edisi II, Cet. V; Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011.

Burns, R.B., The Self Concept in Theory, Measurement, Development and Behavior. London: Longman Group Limited, 1979.

Coser, Lewis. A., The Functions of Social Conflict. Penerjemah: Soerjono Soekanto dan Ratih Lestarini. Jakarta: Sinar Grafika, 1998.
Creswell, John W., Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Traditions. Thousand Oaks: CA. Sage Publication Inc, 1998.
Denzin, Norman K, and Lincoln Yvonna S., The Sage Handbook of Qualitative Research. Third Edition. New Delhi: Sage Publications, 2005.

Fisher Simon el at., Working with Conflict: Skill et Strategies for Action. Diterjemahkan oleh S.N. Karikasari et al., dengan judul “Mengelola Konflik: Keterampilan dan Strategi Untuk Bertindak.” Cet.I; Jakarta: SMK Grafika Desa Putra, 2001.

Gillin, John Lewis and John Phillip Gillin. Cultural Sociology. New York: The Macmillan Company, 1952.

Irewati, Awani et.al,. Kerusuhan Sosial di Indonesia: Studi Kasus Kupang, Mataram dan Sambas. Jakarta: Gramedia, 2000.
Ishomuddin. Sosiologi Perspektif Islam. Malang: UMM Press, 1977.
Kahmad, Dadang. Sosiologi Agama. Cet. II; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000.

Kironosari, W. Endang. “Stereotip dan Prasangka dalam Interaksi Antarkelompok,” Tesis, Jakarta: PPS-UI, 1996.
Kusnadi. Teori dan Manajemen Konflik Tradional Kontemporer dan Islam. MalangL Taroda, 2001.
Kuswarno, Engkus. Metode Penelitian Komunikasi: Fenomenologi, Konsepsi, Pedoman, dan Contoh Penelitian. Bandung: Widya Padjadjaran, 2009.
Littlejohn, W. Stephen. Theories of Human Communication. Amerika: Wadsworth Publishing Company,1996.
Littlejohn, SW ; Karen, AF. Theories of Human Communication.8th ed. Belmont California: Wadsworth Publishing Company, 2009.

Lessa, A. William ; Z. Evon Vogt. Reader in Comparative Religion: An Anthropological Approach. Harper and Row Publications, 1978.
Lokollo, J.E., “Kerusuhan di Maluku: Beberapa Masalah dan Kaitannya dengan Ketahanan Nasional”. Journal, Antropologi Indonesia, Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Jakarta, Th.XXIII, Nomor 58, Januari – April 1999.
Majid, Nurcholis Majid. Agama dan Masyarakat dalam Manusia Indonesia, Individu, Keluarga dan Masyarakat. Cet.I; Jakarta: Akademika Presindo,1986.

Manurung, Martin. Ada Komando Tersembunyi di Ambon. Jakarta: Detikcom Digital Life,1999.
Marzali, Amri. Agama dan Kebudayaan. UMBARA: Indonesian Journal of Anthroplogy, Volume 1, Nomor 1, Juli 2016.

Moleong, J. Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif. Cet.XXIV; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007.

Mulyana, Deddy. Komunikasi Lintas Budaya. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005.

——-, Metodologi Penelitian Kualitatif: Paradigma Baru Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya. Cet.V; PT. Remaja Rosdakarya: Bandung, 2006.

——-, Cultures and Communication: An Indonesian Scholar’s Perspective. Bandung: Remaja Rosyda Karya, 2012.

O’Dea, Thomas F. The Sociology of Religion. New Delhi: Prentice-Hall of India Private Limited, 1969.

Pamungkas, Cahyo, 2005. “Interaksi Sosial Antar Umat Beragama di Maluku: Sebelum dan Sesudah Konflik Sosial 1999”. Journal, Masyarakat Indonesia: Majalah Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia, LIPI, Jakarta, Jilid XXXI, No. 1, 2005.
Rakhmat, Jalaluddin. Islam Alternatif. Bandung: Mizan,1986.
——-, Psikologi Komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,1989.

Salim, Agus. Teori dan Paradigma Penelitian Sosial. Yogyakarta: Tiara Wacana, 2006.

Shihab, Alwi., Islam Inklusif Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama. Bandung: Mizan,1989.

Sudarto, H., Konflik Islam-Kristen: Menguak Akar Masalah Hubungan Antar Beragama di Indonesia. Semarang: Pustaka Rizki Putra, 2000.

Sulaeman. Konstruksi Makna dan Perilaku Komunikasi Penyandang Oligodaktili: Studi Fenomenologi Penyandang Oligodaktili di Kampung Ulutaue Kabupaten Bone. Disertasi; Bandung: Program Studi Ilmu Komunikasi Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran, 2014.

Sumartana, Th. et.al., 2001. Pluralisme, Konflik dan Pendidikan Agama di Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.

Suparlan Parsudi. Kebudayaan Masyarakat dan Agama dalam Pengetahuan Budaya, Ilmu-ilmu Sosial dan Pengkajian Masalah-Masalah Agama. Jakarta: Pusat Penelitian dan Pengembangan Lektur Agama Badan Litbang Agama, 1981-1982.

Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. Cet.II; Jakarta: Rajawali, 1987.

Syam, Nina Winarsih. Psikologi Sosial Sebagai Akar Ilmu Komunikasi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media, 2012.

West, Richard dan Lynn H. Turner. Introducing Communication Theory, Analysis and Application. 3rd edition. Boston: McGraw Hill, 2007.

——-, Introducing Communication Theory: Analysis and Aplication. Penerjemah Maria Natalia Damayanti Maer. Jakarta: Salemba Humanika, 2012.

PEDOMAN WAWANCARA
KOMUNIKASI AGAMA MASYARAKAT KEPULAUAN
(Studi Fenomenologi Komunitas Muslim-Kristiani dalam Mewujudkan
Harmonisasi Kehidupan Beragama di Kepulauan Maluku)
-209557466900
BIODATA KEY INFORMANT
Inisial Nama:
Umur:
Jenis Kelamin :
Status:
Pendidikan:
Pekerjaan:
Makna Diri Beragama:
Sebagai orang Muslim-Kristiani, apa yang anda alami ketika diri anda beragama dan berbeda dengan agama lain?
Konsep Diri Berdasarkan Pengalaman Beragama Di Lingkungan Sosial, Budaya, dan Keagamaan:
Bagaimana pengalaman beragama anda ketika anda berbeda dengan agama lain?
Bagaimana perasaan beragama anda ketika anda berbeda kepercayaan?
Bagaimana perlakuan penerimaan beragama pada lingkungan terhadap anda berbeda kepercayaan?
Pengalaman Komunikasi Agama pada Lingkungan Sosial, Budaya, dan Keagamaan:
Bagaimana interaksi dan komunikasi anda pada lingkungan dalam kehidupan sehari-hari yang berbeda dengan agama?
Apakah ada hambatan-hambatan interaksi dan komunikasi anda lakukan?
Tindakan komunikasi apa yang anda lakukan dalam mengatasi hambatan-hambatan tersebut?
PEDOMAN OBSERVASI
KOMUNIKASI AGAMA MASYARAKAT KEPULAUAN
(Studi Fenomenologi Komunitas Muslim-Kristiani dalam Mewujudkan
Harmonisasi Kehidupan Beragama di Kepulauan Maluku)
419105969000
SITUASI
Kesedian Muslim-Kristiani untuk menerima peneliti
Keadaan fisik dan psikologis Muslim-Kristiani pada saat wawancara berlangsung dengan peneliti
Keadaan lingkungan Muslim-Kristiani pada saat wawancara berlangsung dengan peneliti.

KONDISI
Kondisi tempat tinggalnya, seperti tampilan rumahnya, kamar tamunya, kebersihan rumah, lingkungan tempat tinggal, fasilitas umum, dan akses menuju ke rumah Muslim-Kristiani.

Komunitas Muslim-Kristaini dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari.

INTERAKSI
Cara berkomunikasi dengan berbeda kepercayaan, seperti bahasa pengantar digunakan, bahasa verbal dan nonverbal yang muncul.

Cara berkomunikasi dengan lingkungan berbeda dengan agama lain, seperti bahasa non verbal dan nonverbal yang muncul.

Hambatan-hambatan apa yang dialami saat berinteraksi.

Cara mengatasi hambatan tersebut.

LOKASI
Rumah
Wilayah umum, seperti, pasar, dan sekolah
Tempat kerja, seperti kantor, bernelayan di laut dan hutan
BIOGRAFI PENELITI
Dr. H. Sulaeman, Drs., M.Si. Kini tenaga pengajar di Program Studi Jurnalistik Islam Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Ambon. Pria kelahiran 16 Maret 1967 Kota Watampone Kabupaten Bone Provinsi Sulawesi Selatan. Menyelesaikan pendidikan Sarjana dari Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Alauddin (1991), Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi Pembangunan Universitas Hasanuddin Makassar (2001), dan Program Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung (2014).
Selain sebagai pengajar juga aktif pada Social Change Communication Forum, sebuah kelompok diskusi untuk peminat masalah sosial dan komunikasi pembangunan, Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Provinsi Maluku Periode 2015-2019, Koordinator Survey Kualitas Program Televisi Indonesia Provinsi Maluku, dan Koordinator Komisi Informasi Publik Indonesia Provinsi Maluku Periode 2015-2019, Koordinator Tim Pelaksana Kegiatan Penerjemahan Al-Qur’an Bahasa Melayu Ambon Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia Tahun 2016, Wakil Ketua Forum Perguruan Tinggi Pengurangan Risiko Bencana Maluku Tahun 2017-2020, Wakil Ketua Departemen Penelitian, Pengembangan, dan Diklat Pengurus Wilayah Masyarakat Ekonomi Syariah Provinsi Maluku Periode Tahun 2017-2020, Ketua Departemen Kurikulum dan Pembelajaran Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi Provinsi (ASPIKOM) Maluku Periode 2017-2020, serta Instruktur Nasional CBT Methodology Bidang Komunikasi dan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, dan Instruktur Nasional Teknis Substansif Keagamaan Dosen Peneliti Penelitian Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan Badan Litbang Kementerian Agama Republik Indonesia.

Sejak tahun 2002 hingga kini aktif mengikuti kegiatan kompetensi penelitian, pengabdian masyarakat, dan narasumber secara nasional, seperti di LIPI dan Kementeriaan Agama Republik Indonesia, dan konferensi hasil penelitian nasional-internasional, seperti Dakwah Annual Conferensi, Konpetitif Research Nasional DIKTIS di bidang Dakwah Islam dan Komunikasi Tahun 2015, Simposium Nasional Komunikasi Kesehatan Tahun 2015, Konferensi “CULTHIST” 14 Cultural History and Anthropology, Istambul-Turkey, Dakam, 2014 serta konferensi Beennial World Communication Assosiation di Lisbon-Portugal 2015; Mediterranean Journal of Social Sciences Volume 7 1 S1 Januari 2016 MCSER PUBLISHING, ROME-ITALY; Narasumber Focus Group Discussion Model Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi di Kalangan Masyarakat Petani dan Nelayan Tahun 2015; dan Focus Group Discussion Mendorong Keterbukaan Informasi di Provinsi Maluku Tahun 2015, dan Publikasi Jurnal Terakreditasi Nasional di jurnal Afkaruna: Indonesian Interdisciplinary Journal of Islamic Studies Volume 13 Nomor 2 Desember 2017, jurnal Aspikom Volume 13 Nomor 2 Januari 2018, dan jurnal Kajian Komunikasi Volume 6 Nomor 1 Januari-Juni 2018.

Buku diterbitkan di antaranya: Komunikasi Lingkungan: Fenomena Hutan Suku Naulu di Pedesaan Desember 2016 Jurnalis Perempuan Agustus 2017, Bakupukul Manyapu: Komunikasi Ritual Masyarakat Adat Mamala Maret 2018. Selanjutnya, sertifikat Hak Kekayaan Intelektual dimiliki di antaranya: Konstruksi Makna dan Perilaku Komunikasi Penyandang Oligodaktili Agustus 2014, dan Komunikasi Lingkungan: Fenomena Hutan Suku Naulu di Pedesaan April 2017.
BAB IV
LINGKUNGAN FISIK, SOSIAL, DAN AKSES INFORMASI
KOMUNITAS ISLAM-KRITEN
Kepulauan Maluku Sebagai Lingkungan Fisik Lokasi Penelitian
Akses Informasi Mengenai Komunitas Islam-Kristen
Dukungan Sosial Komunikasi Islam-Kristen
BAB V
PROFIL, REKAPITULASI, DAN KEKHASAN SOSIO
BUDAYA KOMUNITAS ISLAM-KRISTEN
Profil Komunitas Islam-Kristen
Rekapitulasi Komunitas Islam-Kristen
Kekhasan Sosio-Budaya Komunitas Islam-Kristen
BAB VI
MAKNA DIRI, KONSEP DIRI, DAN PENGALAMAN KOMUNIKASI AGAMA KOMUNITAS ISLAM-KRISTEN DALAM MEMBANGUN HARMONISASI BERAGAMA DI KEPULAUAN MALUKU
Makna Diri Beragama Komunitas Islam-Kristen
Konsep Diri Komunitas Islam-Kristen Berdasarkan Pengalaman Beragama
Pengalaman Beragama Komunitas Islam-Kristen
Perasaan Beragama Komunitas Islam-Kristen
Perlakuan Penerimaan Beragama Komunitas Islam-Kristen
Pengalaman Komunikasi Agama Komunitas Islam-Kristen dalam Membangun Harmonisasi Beragama di Kepulauan Maluku
Pembahasan Temuan Penelitian
Makna Diri Beragama Komunitas Islam-Kristen
Konsep Diri Beragama Komunitas Islam-Kristen
Pengalaman Komunikasi Agama Komunitas Islam-Kristen dalam Membangun Harmonisasi Beragama di Kepulauan Maluku
Model Komunikasi Agama Komunitas Islam-Kristen dalam Membangun Harmonisasi Beragama di Kepulauan Maluku
BAB VII
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Saran
Saran Akademis
Saran Strategi Kebijakan
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Makna Diri Beragama Komunitas Islam-Kristen (Sosial-Keagamaan), seperti pengingkaran atas status agama
Konsep Diri Komunitas Islam-Kristen Berdasarkan Pengalaman Beragama
Pengalaman Beragama Komunitas Islam-Kristen (Sosial-Keagamaan)
Perasaan Beragama Komunitas Islam-Kristen (Sosial-Keagamaan), seperti perasan benci, toleransi, kemauan mendengarkan satu sama lain tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip keagamaan, saling memahami
Perlakuan Penerimaan Beragama Komunitas Islam-Kristen
(Sosial-Keagamaan)
Pengalaman Komunikasi Agama Komunitas Islam-Kristen dalam Membangun Harmonisasi Beragama di Kepulauan Maluku
(Proses komunikasi melalui interaksi sosial-keagamaan. SOSIAL=politik, kemasyarakatan, pendidikan, ekonomi, pemerintahan, masohi, perkawinan, keturunan, dialog antar iman, makan patitah. KEAGAMAAN=kegiatan hari-besar keagamaan, ritual keagamaan)
Pengalaman Komunikasi Agama Positif, seperti nilai gotong-royong, saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agamanya, kerja sama di kalangan intern maupun antarumat beragama, kematangan, keterbukaan sikap para penganut agama
Pengalaman Komunikasi Agama Negatif, seperti merasa ajaran yang paling benar hanyalah agama yang dipeluknya, Agama-agama lain dituduh sesat, pemeluknya terkutuk dalam pandangan Tuhan, warisan politik imperialis, fanatisme dangkal, sikap sentimen, cara-cara agresif dalam penyebaran agama, ketidakmatangan dan ketertutupan penganut agama itu sendiri, pengaburan nilai-nilai ajaran agama antara satu agama dengan
BAB V PEMBAHASAN PENELITIAN
Makna Diri Beragama Komunitas Islam-Kristen
Konsep Diri Beragama Komunitas Islam-Kristen
Pengalaman Komunikasi Agama Komunitas Islam-Kristen dalam Membangun Harmonisasi Beragama di Kepulauan Maluku
Model Komunikasi Agama Komunitas Islam-Kristen dalam Membangun Harmonisasi Beragama di Kepulauan Maluku
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Saran
Saran Akademis
Saran Strategi Kebijakan
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Chloe

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out
x

Hi!
I'm Ted!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out